Rabu, 15 April 2015

"Kesan Pertama" #2


       Temen sebangku gue waktu itu adalah "Aldy Wildiyatmoko". Ia selalu  bercerita tentang film kartun yang iya tonton kemarin, wajarlah muka dia aja udah kaya peranakan pokemon batu yang kena hepatitis B. Dari situ gue kepaksa kenalan sama Aldy yang biasa dipanggil "Raja entah kenapa dengan nama Aldy tetapi bisa dipanggil Raja, gue ga bisa jelasin". Minimalnya gue punya satu orang temen yang bisa gue jadikan kambing hitam kalo gue ga sengaja ee dicelana *upss. Dari situ gue dan Raja kini menjadi teman atau mungkin sahabat seperti halnya dikala gue kesusahan pasti dia bantu dan dikala dia lagi kesusahan gue pura pura ga tau.bodo amatlah biar dia mandiri.
       Semenjak itu awal pertemanan gue dan Raja dimulai. Tak jarang kita berdua bermain bersama. Masa-masa ini kami jadikan masa anak-anak yang paling bahagia karena setiap apa yang kami inginkan pasti tersedia, contohnya waktu itu kita ceritanya habis nonton film Power Ranger jadi kebutuhan kita saat itu adalah pedang (baca: batang daun pisang), yaah walaupun itu hanya hayalan dan imajinasi gue tapi setidaknya kebutuhan gue terpenuhi.
        Tak lama setelah gue berteman sama dia ternyata gue baru sadar kalau gue terjangkit virus pokemon batu (baca : sejenis penyakit demam film kartun). Jadi jangan heran kalau gue dulu bentuknya kaya "Shinichi Kudo" dalam film Detective Conan. Karena tulisan ini gue yang buat, gue bebas memilih tokoh untuk ngebully gue sendiri. Gue pilih Shinichi Kudo karena tokoh tersebut cerdas, pintar dan teliti dalam menangani kasus kejahatan. Tak sedikit pula kasus kejahatan yang berhasil dia ungkap dan yang terpenting adalah dia tidak sombong. Film Detective Conan adalah salah satu film favorit gue waktu itu, karena dalam film tersebut memaksa kita untuk berfikir dan menebak-nebak siapakah tersangka utama dalam kasus yang akan di selidiki oleh Shinichi Kudo. Menurut gue film Detective Conan baik untuk membantu pengembangan otak anak ketimbang film "Doraemon" yang isinya hanya ada 4 fase. Fase yang pertama adalah Nobita mempunyai masalah, Fase kedua adalah fase dimana Nobita meminta Doraemon untuk mengeluarkan alat ajaib yang bisa menolongnya dari masalah, Fase ketiga adalah fase dimana Nobita menyombongkan diri karena masalahnya sudah selesai berkat alatnya Doraemon, dan Fase yang terakhir adalah fase dimana Nobita ini ketulah alias kena batunya. Fase dalam film Doraemon tadi sama sekali tidak mendidik. Gue coba bayangin kalau Doraemon itu bener bener ada dalam dunia nyata, mungkin nanti akan mengakibatkan penurunan tingkat keuletan pada generasi penerus kita alias pemalas, hanya bisa bermasalah, hanya bisa meminta , menjadi pribadi yang sombong dan akhirnya ketulah. Cerita Detective Conan dan Doraemon di atas adalah sebagai bukti kalau penyakit gue udah kritis.
       Setelah empat tahun kemudian Raja di pindahkan sekolah, karena dia pindah rumah alasannya mungkin sekolahnya terlalu jauh dari rumah. Dan Semenjak itu juga gue gagal move on, tiap hari gue jalani hidup ini sendiri duduk sendiri, makan sendiri, tidurpun sendiri macam Caca Handika versi anak-anak gitu deh. Setelah berpindahnya Raja, gue sempet berteman sama "Jambul" dia adalah anak yang paling .... hhhmmmmm ... ga terlalu pintar dan ga *tuuuuuuut* bodo bodo amat di kelas (sorry yang itu gue sensor ).
     
----->>>>>Baca Cerita Selanjutnya...